Kajian Kontekstualisasi Wanita Shalehah Modern


Kopri – Pengurus Kopri PC PMII Purwoketo mengadakan kajian kewanitaan dengan tema “Kontekstualisasi Wanita Sholehan Modern” dengan pemateri Eliya Munfarida, M. Ag., yang merupakan dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto. Acara tersebut dilaksanakan di Sekretariat PC PMII Purwokerto, Jum’at (13/2) hari ini. Acara ini merupakan agenda pengurus Kopri (Korp PMII Putri) yang akan dilaksanakan setiap dwi mingguan selama satu tahun ke depan.
Kajian tersebut sebagaimana disampaikan oleh Ketua Kopri PC PMII Purwokerto Siti Nur Azizah, memiliki tujuan untuk mempererat tali silaturahmi kader perempuan dan mendalami tentang kewanitaan sebagai wadah berkreasi untuk kader putri.
Istilah modern dalam tema kajian ini dikoreksi oleh Sahabati Eliya dengan istilah postmodern. Ia menyatakan, “Sebenarnya yang lebih tepat bukan modern, namun saat ini kita sudah bergeser ke era postmodern. Meski begitu, sebenarnya, untuk mewakili pemahaman orang banyak, memang yang lebih enak dan familiar itu adalah istilah modern. Kita tahunya saat ini kita sedang di era modern, bukan postmodern, padahal sebenarnya ini sudah masuk era postmodern.” jelasnya.
“Ciri-ciri budaya manusi postmodern sendiri berbeda dengan era sebelumya. Beberapa perbedaan tersebut diantaranya; pertama, orang zaman modern itu mengonsumsi barang dengan landasan karena kebutuhan, sedangkan postmodern lain, konsumsi lebih karena status sosial. Bila orang dulu membeli motor 100 cc, maka itu dikarenakan butuh dan mampunya beli itu, tapi sekarang lebih mengedepankan bagaimana status sosial nantinya bila membeli barang tersebut. Iapun akan memilih mahal atau merusak kesehatan, asalkan dapat meningkatkan imej atau statusnya di mata orang lain.” paparnya.
“Kedua, ada pergeseran jika dulu yang benar ya benar, yang salah ya salah, sekarang jusru banyak ranah abu-abu, artinya tidak pasti benar dan salahnya. Misalnya budaya suap, jika dulu itu salah, maka sekarang karena justru itu menjadi turun temurun dan dirasa dapat menguntungkan secara pragmatis, maka suap nilainya jadi tidak jelas, bahkan bisa jadi sudah dianggap baik.” lanjutnya.
Menghadapi era postmodern, lanjut Sahabati Eliya, konteks wanita shalehah kemudia perlu dirumuskan kembali sesuai zamannya dan bertumpu pada spiritualitas agama. Eliya menyampaikan bahwa wanita yang shalehah dan ideal di era ini adalah mereka yang memiliki tiga kriteria; pertama, moderat, yang artinya ia tetap berperinsip pada landasan kebutuhan dalam ranah konsumsi. Kedua, memiliki spiritual yang baik yaitu berpegang pada agama dalam menjalani hidupnya. Konsep agama banyak yang dapat menjadi landasan kehidupan yang baik serta menimbulkan kecantikan secara bathiniyah atau populer dengan istilah inner beauty, seperti sabar, ikhlas, tawakkal, dan sebagainya. Ketiga, cerdas dan kritis, diwujudkan dengan memperkaya pemahaman dan wawasan supaya dapat mengaktualisasikan diri di masyarakat secara optimal.
Rilis oleh Divisi Jaringan dan Komunikasi

About PERCA ONLINE

an organization studies to make a change with movement together in purwokerto

Posted on Februari 13, 2015, in BERITA, Program Kegiatan Pengurus and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: