WANITA MATAHARI


Oleh: Nur Laelasari*

Semua serba kelabu tidak ada cahaya di manapun berada

Pandangan perlahan menghilang dari hati

Kemarin matahari bersumpah akan masuk ke dalam gua, selamanya

Namun, subuh tadi mentari terbang dan keluar melebihi batas lintasnya

Apakah hilang termakan awan kelabu?

Atau ia malas menyinari bumi yang terasa hampir mati?

Atau Tuhan telah mengijinkannya untuk menempati nirwana abadi?

Dimana sebenarnya ia, tidak ada yang tahu

Cahaya terang menerobos semua celah kegelapan

Dia seorang wanita dengan senyum begitu anggun melontarkan petuah-petuah emas dari dasar tanah

Kulitnya keriput dengan lingkar hitam menghias mata namun jernih pandangannya

Matanya bagai sebuah bola gas berapi tidak akan padam asanya meski tenggelam di segitiga Bermuda

Jiwanya menggelegak melawan arus kehidupan yang tak senada dengan rakyat jelata

“Sekarang, biarlah jas-jas safari tidur memeluk harta kita yang di raup dengan rakus olehnya. Tapi nanti kami akan memusnahkannya.”

Kata-kata yang keluar membakar tubuh kami dan menjilat wajah kami dengan lidah apinya

Kakinya selalu melangkah penuh kepastian tak pernah goyah di terpa angin jalanan dan mengakar hingga ke perut bumi

Rambutnya yang di sanggul merupakan korona darinya, anggun menghias elok wajahnya

Tutur sapanya hangat dan penuh kelembutan bagaikan warna merah lembut pada kromosfer

Di otaknya sesak di penuhi pemikiran nan cemerlang laksana lapisan fotosfer  dan menyilaukan bagi mereka yang jatuh begitu dalam pada jurang kegelapan

Sementara di hatinya terjadi penggabungan empat atom kehidupan

Atom pertama adalah atom perubahan

Kemudian, atom kedua memperkuat dengan iman

Atom ketiga menyusup penuh kelembutan cinta

Dan atom dari segala atom, yaitu atom harapan

Ketiga atom musnah tidaklah mengapa

Tapi janganlah hilang atom harapan

Karena dengan harapan ketiga atom akan kembali menyatu

Membentuk cahaya maha indah nan terang

Ku pandangi ia sedikitpun tak berkedip. Wanita dengan sejuta rahasia

Kini ia menjelma menjadi lembayung senja dengan senyuman lembut di wajahnya

“Esok aku akan terlahir kembali dalam sosok yang lebih indah dariku.”

Kata terakhir dari sang wanita matahari penuh keyakinan.

******

Penulis adalah sahabati PMII BSI Purwokerto

About PERCA ONLINE

an organization studies to make a change with movement together in purwokerto

Posted on Oktober 9, 2012, in BERITA and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. thanx atas kesempatan yang diberikan….
    Salam Pergerakan!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: