KODIFIKASI HADIS


Oleh: Gilang Permana*

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Dewasa ini, banyak kitab-kitab yang memuat beribu-ribu hadits nabi, seperti kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan lain-lain. Padahal dahulu Rasulullah sempat melarang penulisan hadits karena takut bercampur dengan Al Qur’an. Namun pada akhirnya hadits-hadits dapat dikodifikasi berkat para sahabat.

  1. B.     Perumusan Masalah
    1. Siapakah perintis pendewanan (kodifikasi) hadits dan ulama-ulama yang ikut serta?
    2. Apa saja alasan kodifikasi hadits?
    3. Apa saja ciri-ciri pembukuan hadits pada periode ke-4?
    4. Apa saja ciri-ciri kitab yang didewankan pada abad ke-2?

BAB II

PEMBAHASAN

Kodifikasi adalah penetapan undang-undang secara tertulis, pembukuan hukum.[1]Jadi kodifikasi hadits adalah pendewanan hadits, pembukuan hadits. Sebagaimana Al-Qur’an, hadits juga mengalami proses panjang dalam pembukuannya. Proses pembukuan hadits sebenarnya terlambat sampai seratus tahun lebih dikarenakan tiga faktor berikut:

  1. Kebanyakan para sahabat  tidak dapat menulis.
  2. Kekuatan hafalan dan kecerdasan mereka sudah dapat diandalkan sehingga mereka tidak perlu menulis hadits.
  3. Semula, adanya larangan dari nabi untuk menulis hadits, seperti terdapat dalam shohih muslim. Hal itu karena dikawatirkan sejumlah hadits akan bercampur dengan Al-Qur’an, sehingga Al-Quran tidak murni lagi.[2]

Sejarah kodifikasi hadits terjadi dalam tujuh periode(menurut Prof. Dr. T.M. Habsi Ashidiqi):

  1. Periode pertama, yakni pada masa Rasulullah SAW.

Artinya: masa turun wahyu dan pembentukan masyarakat islam.

  1. Periode kedua, yakni pada masa sahabat besar atau khulafa’ur Rasyidin.

Artinya: zaman kehati-hatian dan penyederhanaan riwayat.

  1. Periode ketiga, yakni pada masa sahabat kecil dan tabi’in besar (masa Dinasti Amawiyah sampai akhir abad I Hijriyah).

Artinya: zaman penyebaran periwayatan ke kota-kota.

  1. Periode keempat, yakni pada masa pemerintahan Amawiyah angkatan kedua (dimulai zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz) sampai akhir abad kedua hijriyah (menjelang akhir masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah angkatan pertama.

Artinya: masa penulisan dan pengkodifikasian (pendewanan) Hadits.

  1. Periode kelima, yakni mulai awal abad ketiga hijriyah sampai akhir abad ketiga hijriyah.

Artinya: masa pemurnian, penyehatan, dan penyempurnaan.

  1. Periode keenam, yakni mulai abad keempat hijriyah sampai jatuhnya kota Baghdad (tahun 656 H).

Artinya: masa pemeliharaan, penertiban, penambahan, dan penghimpunan.

  1. Periode ketujuh, yakni mulai jatuhnya kota Baghdad sampai sekarang.

Artinya: masa pensyarahan, penghimpunan, Pentakhrijan, dan pembahasan.[3]

Masa pengkodifikasian hadits secara resmi terjadi pada periode keempat (sekitar abad kedua.

  1. A.    Menulis dan Membukukan (Kodifikasi) Hadits Secara Resmi

Pengkodifikasian hadits secara resmi terjadi pada periode keempat (abad kedua hijriyah) diantara tujuh periode diatas. Ini terjadi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz (tahun 99 H-101 H). Beliau merupakan salah satu khalifah dari Bani Umayyah. Beliau merupakan orang yang pertama berinisiatif untuk melakukan kodifikasi hadits secara resmi. Beliau mengirim surat edaran kepada pera gubernur di daerahnya masing-masing agar menunjuk ulama di tempat masing-masing menghimpun hadits-hadits Nabi SAW secara khusus serta menelitinya, untuk menentukan hadits shohih dan hadits yang tidak shohih.[4]

Motif utama Khalifah Umar bin Abdul Hadits berinisiatif untuk mengkodifikasikan hadits adalah:

  1. Kemauan beliau yang kuat untuk tidak membiarkan hadits seperti waktu yang sudah-sudah. Karena beliau khawatir akan hilang dan lenyapnya hadits dari perbendaharaan masyarakat, disebabkan belum didewankannya dalam dewan hadits.
  2. Kemauan beliau yang keras untuk membersihkan dan memelihara hadits dari hadits-hadits maudlu’ yang dibuat oleh orang-orang yang mempertahankan ideologi golongan ny oleh orang-orang yang mempertahankan ideologi golongannya dan mempertahankan madzhabnya, yang mulai tersiarsejak awal berdirinya kekhilafan Ali bin Abi Thalib r.a.
  3. Alasan tidak terdewannya hadits secara resmi di zaman Rosululloh SAW dan Khulafaur Rasyidin karena adanya kekhawatiran bercampur aduknya dengan Al-Qur’an telah hilang, disebabkan Al-Qur’an telah dikumpulkan dalam satu mushaf dan telah merata di seluruh pelosok. Ia telah dihafal di otak dan diresapkan dihati sanubari beribu-ribu orang.
  4. Kalau di zaman Khulafaur Rasyidin belum pernah dibayangkan dan terjadi peperangan antara orang muslim dengan orang kafir, demikian juga perang saudara orang-orang muslim yang kian menjadi-jadi yang sekaligus berakibat berkurangnya jumlah ulama ahli hadits, maka pada saat itu konfrontasi benar-benar terjadi.[5]

 B.     Ulama-ulama yang ikut serta dalam pendewanan hadits

Gubernur dan ulama yang melaksanakan perintah Khalifah Umar bin Abdul aziz untuk mendewankan hadits adalah:

  1. Muhammad Ibnu Hazm (Gubernur Madinah)

Selain sebagai seorang gubernur, beliau juga seorang ulama. Beliau diperintah oleh khalifah supaya mengumpulkan dan membukukan hadits-hadits yang dihafal oleh penghafal-penghafal hadits di Madinah antara lain:

  1. Amrah binti Abdir Rahman Ibnu Saad Ibnu Ades, seorang ahli Fiqih, murid Sayyidah Aisyah r.a.
  2. Al-Qasim Ibnu Muhammad Ibnu Abu Bakar As-Shidiq, salah seorang pemuka tabi’in dan salah seorang fuqaha tujuh.[6]
  3. Muhammad Ibnu Syihab Az-zuhry

Beliau merupakan ulama besar di Hijaz dan Syam. Beliau dikenal sebagai ulama besar di bidang Hadits. Beliau berhasil mendewankan seluruh hadits yang ada di Madinah. Kemudian beliau mengirimkan hasil pendewanannya kepada seluruh penguasa di daerah,masing-masing masing satu rangkap sehingga dengan demikian lebih cepat tersiar.[7]

  1. Ciri-ciri Kitab Hadits yang didewankan pada abad kedua hijriyah

Kitab Hadits yang didewankan atas inisiatif Khalifah Umar bin Abdul Aziz mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Hadits yang disusun dalam dewan-dewan hadits mencakup hadits-hadits Rosululloh SAW, fatwa-fatwa sahabat dan Tabi’in. Dengan demikian kitab hadits pada periode ini belum diklasifikasi/dipisah-pisah antara hadits-hadits marfu’, mauquf, dan maqthu’. Kitab hadits yang menghimpun hadits-hadits Nabi saja hanyalah kitab yang disusun oleh Muhammad Ibnu Hazm. Beliau melakukan demikian mengingat adanya intruksi Khalifah Umar bin Abdul Hadits yang menyatakan:

لا تقبل الا حد يث الرسول صلي الله عليه وسلم

“janganlah kamu terima, selain dari hadits Nabi SAW.”

  1. Hadits yang disusun dalam dewan-dewan hadits, umumnya belumlah dikelompokan berdasarkan judul-judul (maudlu’) masalah tertentu. Dengan demikian, maka dalam dewan-dewan hadits, terhimpun secara bercampur aduk Hadits-hadits Tafsir, Hadits-hadits Sirah Nabi, Hadits-hadits Hukum dan sebagainya.
  2. Hadits-hadits yang disusun belumlah dipisahkan antara yang berkualitas shohih hasan dan dho’if.[8]

  1. D.    Kitab-kitab hadits yang masyhur pada abad kedua

Kitab-kitab hadits yang masyhur karya abad kedua antara lain:

  1. Al-Muwattha’

Kitab ini disusun oleh Imam Malik pada tahun 144 H, atas anjuran Khalifah Al-Mansur. Jumlah hadits yang terdapat pada kitab Al-Muwattha’ lebih kurang 1720 buah. Kehadirannya dalam masyarakat mendapat sambutan hangat dari pendukung-pendukung Sunnah. Sebagaiman ia disyarahkan dan dikomentari oleh ulama-ulama hadits yang datang kemudian, juga diringkaskannya. As-Suyuthi mensyarahkan kitab tersebut dengan nama Tanwiru’l-Hawalik dan Al-Khatthaby mengikhtisarkannya dengan nama Mukhtasharu’l-Khatthaby.

  1. Musnadu’sy-Syafi’iy

Di dalam kitab ini Imam Asy-Syafi’i mencantumkan seluruh hadits yang tersebut dalam kitab beliau dengan nama Al-Umm.

  1. Mukhtalifu’l-hadits

Kitab ini dikarang oleh Imam Syafi’i. Beliau menjelaskan dalam kitabnya cara-cara menerima hadits sebagai hujjah, dan menjelaskan cara-cara untuk mengkompromikan hadits-hadits yang tampaknya kontradiksi satu sama lain.[9]

BAB III

Penutup

Kesimpulan:

  1. Pengkodifikasian hadits secara resmi dilakukan pertama kali atas inisiatif Khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan dibantu Muhammad Ibnu Hasm dan Muhammad Ibnu Syihab Az-Zuhry.
  2. Alasan-alasan pengkodifikasian hadits adalah karena khalifah Umar bin Abdul Aziz takut hadis akan lenyap, kemauan beliau yang keras untuk membersihkan dan memelihara hadits dari hadits- hadits Maudlu’, Al-Qur’an telah dikumpulkan kedalam satu muskhaf sehingga hadits tidak dikhawatirkan bercampur dengan Al-Qur’an dan berkurangnya ulama ahli hadits yang gugur dalam peperangan.
  3. Ciri-ciri kitab hadits yang didewankan pada abad kedua adalah hadits yang disusun mencakup hadits- hadits Rasul, fatwa-fatwa sahabat dan Tabi’in, umumnya belum dikelonpokkan berdasarkan judul-judul masalah tertentu, dan belumlah dipisah antara yang shohih, hasan, dan dho’if.
  4. Kitab-kitab hadits pada abad kedua hijriyah diantaranya Al-Muwattha’, Musnadu Syafi’iy, dan Mukhtaliful Hadits.

Daftar pustaka

  • Azam,M.M.1994.Hadits Nabawi dan Sejarah kodifikasinya.Jakarta:PT Pustaka Firdaus
  • Dahlan,M.1994.Kamus Ilmiah Populer.Surabaya:Arkola
  • Ismail,Syhudi.1987.Pengantar Ilmu Hadits.Bandung:Angkasa
  • Rahman,Fatchur.1974.Ikhtisar Mushthalahul Hadits.Bandung:PT Alma’arif
  • Abdurrahman,M.2000,Pergeseran Pemikiran Hadits,Jakarta:Paramadina

 

*ditulis oleh: Gilang Permana Ketua Rayon Syariah PMII Walisongo Purwokerto 2012-2013, editing: Mukhammad Aqil Muzakki

 


[1] M. Dahlan,Kamus ilmiah populer,Surabaya:Arkola,1994,hal.341

[2] M.M. Azami,Hadits Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya,Jakarta:PT Pustaka Firdaus,1994,hal.109

[3] Syuhudi Ismail,Pengantar Ilmu Hadits,Bandung:Angkasa,1987,hal.72-73

[4] M. Abdurrahman,Pergeseran Pemikiran Hadits,Jakarta:Paramadin,hal.5

[5] Fatchur Rahman,Ikhtisar Mushthalahul Hadits,Bandung:PT Alma’arif,1974,hal.53

[6] Syuhudi Ismail,Pengantar Ilmu Hadits,Bandung:Angkasa,1987,hal.102

[7] Ibid,hal.103

[8] Ibid,hal.106

[9] Fatchur Rahman,Ikhtisar Mushthalahul Hadits,Bandung:PT Alma’arif,1974,hal.56

About PERCA ONLINE

an organization studies to make a change with movement together in purwokerto

Posted on September 4, 2012, in BERITA and tagged , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. maaf editanya (bullet n numbering) susah di atur di posting ini,… [az]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: